Selasa, 02 Agustus 2011

Dzikir, Bersyukur, dan Beribadah dengan Baik


Ada banyak ibadah yang menjadi kewajiban seorang muslim dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, salah satu diantaranyanya adalah Dikir, Bersyukur, dan Beribadah dengan baik. Nabi Muhammad saw berpesan kepada para sahabat, “Wahai sahabatku, hendaklah kalian tidak meninggalkan doa  Allohumma a’innii ‘alaa Dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibaadatika, Ya Alloh tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu serta beribadah dengan baik”.
Dzikir
Amalan dzikir tidaklah mudah diterapkan, terkadang kita ingat pada saat tertentu, tetapi lupa pada saat yang lain. Dzikir merupakan benteng dari godaan syetan untuk melakukan larangan-larangan-Nya. Alloh berfirman dalam QS Al-Mujadillah 19: ”Syetan telah mengusai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh, mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi”.
Artinya, apabila diri kita sudah dikendalikan oleh syetan, maka kita akan lupa mengingat Alloh dan berpotensi untuk melakukan larangan-larangan-Nya. kita akan menjadi sahabat syetan, dan termasuk kelompok yang merugi. Oleh karena itu, bentengilah diri kita dengan selalu berdzikir kepada Alloh swt.
Dalam surat Al-Ahzab 41-42, Alloh swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, Dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.
Dikir juga merupakan syarat mutlak jika ingin menang dalam berdakwah, sebagaimana firman Alloh dalam QS Al-Anfal 45: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi musuh, maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Alloh sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.
Syukur
Alloh swt memerintahkan kepada kita untuk selalu bersyukur setiap saat, sementara dalam realitasnya kita susah melakukannya. Sehingga pantaslah Alloh berfirman dalam QS al-Araf 10: “… Amat sedikitlah kamu bersyukur”.
Jika kita bicara terhadap nikmat yang diberikan Alloh swt, apakah kita tidak berfikir betapa banyaknya nikmat lisan, telinga, mata, kesehatan,dll yang kita dapatkan. Sekiranya kita menghitung nikmat tersebut, tidaklah dapat terhitung.
Imam al-ghozali bertanya kepada murid, apakah kaliah senang jika mata kalian diambil Alloh dan diberi uang 100 dinar?, sang murid menjawab  tidak. Lalu sang imam bertanya kembali, apakah kalian senang juga seandainya kaki dan tangan diambil Alloh dan diberi uang 200 dinar?, sang murid menjawab lagi, tidak. Sang iman berkata, inilah bukti kalian kurang bersyukur kepada Alloh, karena pada saat Alloh  memberikan musibah masih banyak kenikmatan-kenikmatan lain yang diberikan kepada kalian. sehingga, jadilah orang-orang  yang selalu bersyukur, karena Alloh akan menambah nikmatnya bagi hamba yang selalu bersyukur.
Baik dalam Beribadah
Dalam hal ini, seharusnya dalam melaksanakan ibadah (sholat, puasa, dakwah, jihad,dll) didasari oleh niat  ikhlas semata-mata ingin mendapatkan keridhoan dan pahala dari Alloh swt.
“Dikutip dari ceramah subuh, tgl 9 April 2009 di Mesjid Darussalam”

Obat Penawar Stress, Sedih, Lemah, Malas, Kikir, Penakut, Terbeban Utang, dan Ditindas Orang


Ada satu do’a yang diajarkan nabi, yang selalu beliau wiridkan dua kali sehari, di saat pagi dan sore. Do’a itu adalah sebagai berikut:
“Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan waa’udzu bika minal ‘ajzi walkasali wa a’udzubika minal jubni wal  bukhli wa a’udzu bika min ghalabatiddain wa qahrirrijal.”
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari rundungan sedih dan duka, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut, aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan penindasan orang“.

Secara redaksional do’a ini sangatlah pendek, namun kalau kita cermati do’a ini memiliki muatan yang sangat luas terlebih kalau dikaitkan dengan keseharian hidup. Bahkan rosul pun tidak pernah meninggalkan untuk mewiridkannya.
Mari kita cermati satu per satu redaksinya,
#Redaksi 1. Ya alloh, Aku berlindung dari sifat stress, gundah gulana, pikiran dan hati berkecamuk, dan kesedihan.
Sesungguhnya Islam mengajarkan agar kita tidak stress dan gundah gulana baik hati dan pikiran. Sebaliknya, kita harus memiliki hati dan pikiran terbuka. Betapa tidak, situasi stress akan menghambat aktivitas lainnya. Bukan hanya malas dalam beribadah namun juga malas dalam bekerja.
Sebagian orang berpendapat, penawar stress adalah pergi hiburan malam, menonton bioskop, makan terus, atau minum alkohol. Namun, jalan yang ditawarkan islam bukanlah itu, penawar stress adalah rajin membaca al-Quran, memperbanyak dzikir kepada Alloh, menjaga sholat malam, berkumpul dengan orang sholeh, dan rajin berpuasa.
#Redaksi 2, Aku  berlindung dari sifat lemah dan malas.
Saat seseorang telah terjangkit penyakit stress dan sedih, maka akan merembet kepada penyakit berikutnya yakni penyakit lemah dan malas. Lemah disini bisa bermakna lemah iman, lemah fisik maupun lemah ekonomi.
Secara alamiah, iman seseorang itu naik turun, kadang kuat dan kadang turun. Iman yang lemah akan mendorong seseorang melakukan maksiat. Lemah fisik sangatlah ditakuti rosul. Mana mungkin bisa beribadah secara teratur misal sholat malam dan membaca al-Quran, kalau kita terserang penyakit.  Untuk itulah, kita disarankan meng-agenda-kan olahraga secara teratur. Rosul mencontohkan, sehabis shubuh ia berjogging sambil berdzikir.
Lemah harta pun dihindari dalam islam. Kenapa? karena banyak sekali syariat islam yang memerlukan modal harta / uang, misalnya sholat perlu baju, zakat perlu harta, dan bahkan ibadah haji pun perlu harta dan mental. Penyakit berikutnya adalah sifat malas. Maknanya bisa malas dalam bekerja, beribadah, silaturahmi, menuntut ilmu, dan aktivitas kebaikan lainnya.
# Redaksi 3, Aku Berlindung dari Sifat Pengecut dan Bakhil.
Implikasi penyakit berikutnya ialah sifat pengecut dan bakhil. Orang pengecut adalah orang yang tidak gentle, manis dimuka musam di belakang. Ia suka berbohong, berkhianat, dan melanggar janji. Orang bakhil sangatlah berat menolong dan mengeluarkan shodaqoh. Ia tidak mengetahui bahwa harta yang sesungguhnya dinikmati bukanlah yang dimiliki, namun apa yang diberikan kepada Alloh. Pahala shodaqoh 1 berbanding 700 serta akan menolak bala.
#Redaksi 4, Aku berlindung dari terlilit hutang dan pengaruh orang lain.
Dalam islam, berhutang diperbolehkan, asal jangan sering-sering, karena akan memberatkan di kemudian hari. Berhati-hatilah dengan utang, karena hutang satu jarum-pun akan diperhitungkan di akhirat kelak. Rosul pernah menunda sholat jenazah seorang sahabat karena sahabat itu masih punya hutang.
Terakhir, kita berlindung dari pengaruh orang lain yang membawa kepada jalan yang tidak lurus, baik dari keluarga, rekan kerja, atasan, lingkungan rumah, sekolah, kampus, dan lain sebagainya. 
“Pengajian Subuh, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Cibubur Bogor, Narasumber Ust. Syamsul Bahri Al-Hafidz”


JANGAN TAKUT HADAPI MATI


Saat bicara kematian, biasanya, merupakan topik yang kurang disenangi dan diminati bagi sebagian orang. Kenapa? Karena, pada dasarnya, naluri manusia menginginkan hidup lama, bahkan kalau bisa hidup seribu tahun lamanya. Alloh SWT menyatakan dalam QS Al-Baqoroh 96, bahwasanya ada segolongan manusia yang ingin hidup seribu tahun lamanya.
 “…masing-masing mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkan mereka dari azab. Dan Alloh maha melihat apa yang mereka kerjakan
Naluri ingin hidup lama, tidak hanya ada pada kita sekarang, namun sejak nabi Adam sekalipun. Ia ingin menetap di surga selama-lamanya. Sehingga dengannya, nabi Adam berhasil digoda tipu daya syetan. Melalui pintu ingin hidup panjang, syetan membisikan nabi Adam, agar melanggar larangan Alloh memakan buah khuldi. Sebagaimana tercantum dalam QS Thoha 120.
“Kemudian syetan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya dengan berkata,”wahai adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Banyak faktor yang menyebabkan orang takut atau cemas saat bicara kematian, merujuk pendapat DR. Quraisy Syihab, faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1) Tidak mengetahui apa yang akan dihadapi setelah kematian 2) Menduga bahwa apa yang dimiliki sekarang jauh lebih baik dengan apa yang dimiliki nanti 3) Membayangkan betapa sulitnya pengalaman mati 4) Khawatir memikirkan terhadap keluarga yang ditinggalkan, dan  5) Tidak mengetahui makna kehidupan dan kematian.
Jika manusia cemas menghadapi kematian karena membayangkan sulitnya pengalaman mati, sebenarnya tidak pada tempatnya. Memang dalam al-Quran dan Hadits disebutkan bahwa ada kematian yang sangat menyakitkan, namun perlu diingat juga, ada kematian yang sangat indah dan menyenangkan. Dalam QS Annazi’at 1-2, Alloh SWT berfirman,
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras.
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah lembut.
Dalam kedua ayat ini, Alloh menggambarkan dua karakteristik manusia saat dicabut nyawanya, yakni dicabut dengan keras dan dicabut dengan lemah lembut. Dicabut nyawa dengan keras merupakan pengalaman kematian yang menyakitkan. Untuk kondisi ini, rosul mengumpamakan seperti duri yang ada dikapas, lalu duri tersebut ditarik dengan cepat sehingga kapas-kapas terbawa karena kerasnya tarikan. Ini, menjelaskan nyawa dicabut dari badan dengan cepat, keras, paksa dan menyakitkan.
Sementara itu, kondisi dicabut nyawa dengan lemah lembut, adalah proses kematian secara perlahan-lahan. Untuk kasus ini, diibaratkan seseorang yang ngantuk, lalu rebahan, lalu hilang kesadaran sampai ia tertidur lelap dan indah.
Faktor utama yang menentukan apakah manusia mengalami kondisi pertama atau kedua, tidak lain adalah keimanan dan amal sholeh. Saat manusia berlaku jahat, dosa dan maksiat bisa jadi ia akan merasakan kematian yang sakit, dipaksa dan cepat. Sementara bagi orang yang beriman dan beramal sholeh, kematian sebagai hal yang lezat dan indah
Dalam haditnya nabi bersabda, seorang beriman, saat menjelang kematian akan didatangi malaikat yang menyampaikan berita atau visualisasi tempat tinggal dan fasilitas apa yang akan dihadapi nanti. Bisa jadi istana atau bidadari. Maka tidak ada yang paling disenanginya, kecuali segera bertemu dan dicabut nyawanya.Sementara orang kafir, saat mati menjelang ia akan meraskana ketakutan untuk bertemu dengan tuhannya.
Jadi, bagi kita orang yang beriman, janganlah terlalu cemas mengadapi kematian. Yang paling utama adalah melakukan usaha terbaik mengumpulkan bekal menghadapi kematian. Kita siap kapan dan mana pun kematian menjemput. Jadikan kematian sebagai media untuk menumbuhkan semangat pengabdian kepada Alloh, dengannya kita tidak santai-santai untuk beribadah kepada Alloh.
Jadikan dunia sebagai sarana menuju kehidupam akhirat yang sempurna.  Sebagaimana Alloh SWT berfirman dalam Attaubah 38.
“…Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”
Dan terakhir jadikanlah kematian sebagai proses kelahiran kedua. Kematian merupakan proses evolusi menuju kesempurnaan hidup yang hikiki. Perpindahan dari satu negeri ke negeri lain sampai kita menetap di sana selama-lamanya.

“Dikutip dari Pengajian Malam Ahad, Mesjid Darussalam Kota Wisata, Bogor, 23 April 2011″